Syeikh Kholid Ar-Rosyid
Suatu hari amiril mu’minin umar berjalan bersama jarud Al-‘abdi ra, ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang wanita (khaulah binti tsa’labah). Khaulah berkata: “Wahai Umar, aku masih ingat dulu engkau masih dipanggil Umair (Umar Kecil). Saat engkau menakut-nakuti anak-anak lainnya di Pasar Ukaz. Hingga engkau pun dipanggil Umar, dan kini engkau di panggil Amirul mu’minin. Maka takutlah kepada Allah wahai Umar ! ketahuilah Allah akan menanyakan tentang kepemimpinanmu. Bagaimanakah kau mengurus rakyatmu?”
Umar pun menangis sejadi-jadinya Al-Jarud menegur Khaulah karena bersikap kasar kepada Umar. Umar ra berkata : “ biarkanlah dia., karena sesungguhnya ia adalah wanita yang perkataanya di dengar Allah dari langit ketujuh”. Maka Umar pun patut mendengarkannya.
Diantara nama-namaNya yang mulia adalah Al-bashir. Bahwa dia memiliki penglihatan yang melihat dengannya. Dia melihat segala sesuatunya, baik yang besar maupun yang kecil. Dia Maha Melihat apa yang ada di bawah bumi, dan apa yang ada di atas langit. Dia melihat di lautan yang paling dalam.
لَا تُدۡرِكُهُ الۡاَبۡصَارُ وَهُوَ يُدۡرِكُ الۡاَبۡصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيۡفُ الۡخَبِيۡرُ ﴿۱۰۳﴾
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Al- an’am 103.
Suatu malam Umar ra mendengar wanita tua yang berkata pada putrinya: “ Nak, campurkanlah susunya dengan air”, putrinya berkata “tidakkah engkau tahu wahai ibuku, sesungguhnya khalifah umar telah melarangnya”. Ibunya berkata “ dimana umar, dia tidak melihat kita”. Namun putrinya yang beriman itu menjawab “jika umar tidak melihat kita, maka sesungguhnya Tuhannya Umar melihat kita”.
Suatu hari Ibnu Umar ra seorang budak pengembala di sebuah padang pasir. Lalu Ibnu Umar menguji pemuda ini dengan mengatakan ingin membeli seekor dombanya. Pemuda itu berkata “aku sudah diberi kepercayaan oleh majikanku.” Ibnu umar ingin menguji imannya dan berkata “katakan kepada majikanmu kalau seekor dombanya telah dimakan serigala” namun pengembala yang hatinya telah di isi rasa takut kapada Allah itu menjawab’ “apa yang harus ku jawab nanti kepada Allah? Aku bisa mengatakan dombanya di makan serigala kepada majikanku, namun apa yang harus ku jawab kepada Allah? Disaat anggota tubuhku mampu berbicara.
يَّوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ اَلۡسِنَـتُهُمۡ وَاَيۡدِيۡهِمۡ وَاَرۡجُلُهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ ﴿۲۴﴾
pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Annur 24.
Ibnu umar pun menangis, kemudian dia mengutus seseorang untuk membebaskan pemuda itu dan berkata “perkataanmu telah membebaskanmu di dunia ini. Aku memohon kepada Allah agar membebaskanmu ketika engkau bertemu denganNya”.
Dia berkata dengan penuh keimanan dan merasa di awasi Allah. Kemanakah contoh-contoh ini dalam kehidupan kita? Kemanakah iman dalam kehidupan kita? Kemanakah jejak kebaikan dalam keseharian dan ibadah kita? Jika engkau ingin mengetahui tingkat ke imananmu, maka perhatikanlah dirimu di kala sendiri. Sesungguhnya iman tidak datang hanya dengan sholat 2 rokaat (sholat sunnah) dan berpuasa di siang hari. Namun ia datang saat perjuanganmu melawan hawa nafsu.
Demi Allah! Tidaklah Yusuf AS memperoleh kebahagian dan kedudukan yang tinggi, melainkan karena ia mampu menundukkan hawa nafsunya
وَاَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰىۙ ﴿۴۰﴾ فَاِنَّ الۡجَـنَّةَ هِىَ الۡمَاۡوٰىؕ ﴿۴۱﴾
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). Annaziat 40 – 41.
Allah akan menaunginya pada hari itu, di saat tidak ada tempat bernaung selain naunganNya, yaitu mereka yang mengingat Allah dalam kesendiriannya, hingga air matanya pun mengalir. Dan mereka yang di uji oleh ajakan wanita cantik untuk berbuat maksiat, namun mereka berkata: “sesungguhnya Aku Takut kepada Allah”

