بَابُ الْإِعْرَابِ
الْإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ لِاخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا. وَأَقْسَامُهُ أَرْبَعَةٌ: رَفْعٌ، وَنَصْبٌ، وَخَفْضٌ، وَجَزْمٌ. فَلِلْأَسْمَاءِ مِنْ ذَلِكَ الرَّفْعُ، وَالنَّصْبُ، وَالْخَفْضُ، وَلَا جَزْمَ فِيهَا. وَلِلْأَفْعَالِ مِنْ ذَلِكَ الرَّفْعُ، وَالنَّصْبُ، وَالْجَزْمُ، وَلَا خَفْضَ فِيهَا.
Bab I'rab
I'rab adalah perubahan akhir kata karena perbedaan amil (faktor penyebab) yang masuk padanya, baik (perubahan itu) secara lafadz (tampak jelas) maupun secara taqdir (diperkirakan). Dan pembagiannya ada empat: Rafa', Nashab, Khafadh (Jar), dan Jazm. Maka bagian untuk Isim (Kata Benda) dari keempat itu adalah: Rafa', Nashab, dan Khafadh; dan tidak ada Jazm padanya. Dan bagian untuk Fi'il (Kata Kerja) dari keempat itu adalah: Rafa', Nashab, dan Jazm; dan tidak ada Khafadh padanya.
Berikut penjelasan poin-poinnya:
1. Apa itu I'rab? (Perubahan Ekor Kata)
Di bahasa Indonesia, kata "Budi" tetap "Budi", tidak peduli posisinya di mana:
Budi makan roti. (Subjek)
Saya melihat Budi. (Objek)
Saya pergi bersama Budi. (Keterangan)
Tapi di bahasa Arab, bunyi huruf terakhir kata "Budi" (Zaid) harus berubah sesuai jabatannya. Inilah yang disebut I'rab.
Zaidun (زيدٌ) makan roti. (Subjek = bunyi "Un")
Saya melihat Zaidan (زيدًا). (Objek = bunyi "An")
Saya pergi bersama Zaidin (زيدٍ). (Keterangan = bunyi "In")
Jadi, I'rab adalah berubahnya harakat akhir kata karena posisinya dalam kalimat beda-beda.
2. Berubahnya Kelihatan vs Tidak Kelihatan
Teks tadi menyebut: "Lafzhan au Taqdiran" (secara lafadz atau dikira-kira).
Lafzhan (Jelas): Perubahannya kelihatan/kedengaran. Contoh: Zaidun, Zaidan, Zaidin.
Taqdiran (Dikira-kira): Kata yang ekornya huruf sakit (vokal panjang), harakatnya nggak bisa muncul.
Contoh: Nama "Musa".
Mau jadi Subjek tetap "Musa", Objek tetap "Musa". Kita nggak bilang "Musayu" atau "Musayi". Perubahannya dianggap "ada tapi sembunyi".
3. Empat Jenis "Seragam" (Status)
Dalam Nahwu, status kata itu ada 4 jenis (seperti warna seragam):
Rafa' (Ciri utamanya Dhommah/u).
Nashab (Ciri utamanya Fathah/a).
Khafadh/Jar (Ciri utamanya Kasrah/i).
Jazm (Ciri utamanya Sukun/mati).
4. Pembagian Jatah: Isim vs Fi'il
Penulis menegaskan aturan main siapa boleh pakai seragam apa:
A. Untuk ISIM (Kata Benda/Nama):
Boleh Rafa' (Dhommah).
Boleh Nashab (Fathah).
Boleh Khafadh (Kasrah).
HARAM Jazm (Sukun).
Ingat: Nama orang atau benda tidak boleh dimatikan (sukun) akhirnya secara asal. Nggak ada kata Zaidun jadi Zaid (kecuali pas waqaf/berhenti baca). Isim itu hidup, nggak boleh mati.
B. Untuk FI'IL (Kata Kerja):
Boleh Rafa' (Dhommah).
Boleh Nashab (Fathah).
Boleh Jazm (Sukun).
HARAM Khafadh (Kasrah).
Ingat: Kata kerja tidak bisa dikasrah (bawah). Contoh: Yansuru (menolong), nggak mungkin jadi Yansuri.
Ringkasan Rumus:
Isim = Anti Sukun.
Fi'il = Anti Kasrah.
